Postingan

Pelangi Destina (part 5)

Gambar
“Dulu sewaktu kamu masih kecil, paman sering membawamu kesini ?” “Oh ya ?”, tanya Tania sambil mengingat. “Sudah lupa ?” “Sedikit yang bisa Tania ingat paman”, jawabnya. Sang pamanpun tersenyum. “Paman suka sekali kesini karena tempat ini terasa lebih sejuk dan nyaman”, ujar pamannya bercerita. Tatapannya menerawang ke halaman parkir dibawah rindangnya pohon mahoni. “Tania…” “Ya paman ?”, jawab Tania. “Alhamdulillah, akhirnya paman masih diberikan kesempatan mengunjungi tempat ini” “Ya paman.” ,timpalnya sambil tersenyum. “Iya ….hehehe. Paman juga teringat dua orang sahabat ketika kami ngobrol diberanda mesjid ini” “Siapa mereka paman ?” “Wagimin sang marbot masjid ini dan Arman seorang wartawan harian ibu kota”, kenangnya. “Oh ya ?” “Wagimin orangnya sangat lucu tapi kejujurannya sangat luar biasa. Cara berpikirnya yang sederhana kadang membuat kami tertawa. Sedangkan Arman seorang yang dermawan dan mudah bergaul dengan siapapun” “Oh ya. mereka sekarang tinggal d...

Pelangi Destina (part 4)

Gambar
Enam bulan berlalu. Sore satu Muharram 1430 ditahun Hijriah, lelaki perantauan bertubuh tegap itu menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Suara mesin jet pesawat masih mengiang ditelinganya, menderu seiring gemuruh di dadanya. Ia sangat merindukan tanah kelahirannya di kota Cirebon itu. Sebuah kota yang berada diujung Jawa Barat dan perbatasan Jawa Tengah. Sembilan belas tahun sudah ia meninggalkan kenangan yang dialaminya, pahit dan getir pernah ia rasakan di tanah wali itu. Bencana itu telah menikam kebahagiaannya karena telah merenggut orang-orang yang dicintainya. “Taksi pak…,mau pulang kemana ? Biar Saya yang antar”, tanya seorang sopir taksi yang menawarkan tumpangannya. “Tidak mas, terimakasih” , jawab Sudarto secara sambil menenteng tas besar berikut dua kardus bawaan yang ia titipkan di bagasi pesawat sejak berangkat tadi. Bunyi roda-roda dari travel bag seakan mengisyaratkan bahwa hidup itu terus berputar dan tak pernah berhent...

Pelangi Destina (part 3)

Gambar
Lanjutan Bagian Ketiga ”Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Dia tak pantas buatku, dan Aku tak mencintainya”, seru Destina. ”Tidak bisa!. Papa tidak memberi kamu pilihan. Kamu harus menuruti perintah Papa”, hardik Papanya. ”Aku tidak mau pah!, Aku sudah punya pilihan sendiri” ”Harus!” ”Kenapa aku yang harus menuruti Papa?” ”Aku sudah membesarkanmu dengan kecukupan. Semua keinginanmu, Papa penuhi. Sekarang giliranmu untuk menuruti perintah Papa”. ”Tapi untuk permintaan ini aku tidak bisa pah!” ”Papa tidak memberikan kamu pilihan. Buat apa kamu pacaran sama Adrian, yang masa depannyapun belum jelas!” ”Mamaaaa…..Aku tidak mau maaaah!”, Destina menubruk mamahnya dan memeluk erat diiringi tangisannya yang pecah hingga kesudut-sudut ruangan. ”Sabar sayang. Mama akan bilang sama Papamu. Mama juga tak setuju..tapi sabar ya sayang, Papamu sangat keras”. ”Tapi aku mau menikahnya sama Adrian. Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Tolong maaah”, Destina semakin erat memeluk...

Pelangi Destina (part 2)

Gambar
Singkat cerita Adrian berhasil mendekati sang gadis. Suatu hari. “Ehem, maaf mbak boleh kenalan ?” “Boleh. Selama mas orang baek-baek”, sambil tersenyum “Dijamin. Saya Adrian”, dengan semangatnya Adrian julurkan tangannya. “Destina Bintan”, sambil menjabat tangan Adrian. “Bintan ??” “Iya. Namaku Destina Bintan, boleh khan ?” “Ya bolehlah. Ga ada yang larang koq” ”Panggil saja Destina” ”Kalo begitu, nama lengkapku Adrian Bulan…hehehehe”, gurau Adrian. “Jiiiaaaahh. Maksa dech situ”, keduanya tertawa kecil. “mba bekerja ?” “Iya. Mas sendiri “ “Don’t call me “Mas”, Please. Panggil saja Adrian” “Ok mas Adrian” “Hehehe…, Whatever lah. Aku juga bekerja. mba kerja dimana ?” “Don’t call me “mba”, Please. Cukup Destina saja” “Ok. mba Destina”, jawabnya girang. “Halaahh…latah dech” “Kerja dimana? “ “Di kantor” “Di kantor ??“, Adrian tersenyum dengan jawaban Destina “Iya. Masa diatas pohon sih ?”, ledeknya. “Iya dech. Kantor mana ?” “Kantor depan jalan” “Jalan mana ?” ...