Onthel, lahir dimasa lalu, berjaya saat ini


Aktivitas bersepeda bagi sebagian orang dapat dijadikan sebagai kegiatan olahraga yang menyenangkan, menyehatkan bahkan dapat menjadi hobi yang mengasyikan. Banyaknya komunitas pecinta roda dua di Nusantara ini ternyata dapat memberikan inspirasi, jalinan pertemanan atau peluang Bisnis yang dapat digeluti. Bila kita melihat dari jenis atau peruntukan Sepeda tersebut, tentu amat banyak ragamnya. Terdapat banyak jenis Sepeda yang kita kenal, semisal Sepeda Gunung (Mountain Bike), Fixie, BMX, Sepeda Mini (Pancal/Kumbang), Sepeda Onthel (ada yang bilang Sepeda Kebo Lanang/Wadon, Sepeda Gudel (anak kebo, karena tergolong lebih kecil ukurannya) dan jenis Sepeda lainnya. Sedangkan jika dilihat peruntukkannya bisa kita kategorikan untuk balita, anak-anak, remaja, dewasa dan bahkan Sepeda peninggalan orang tua Sepeda jaman dulu (Sepeda antik jadul).

Kesempatan kali ini, penulis akan mencoba berbagi cerita tentang jenis Sepeda Onthel. Sepeda Onthel seperti kita ketahui adalah jenis Sepeda klasik dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Alat transportasi tanpa bahan bakar ini banyak diproduksi oleh negara luar di Eropa, seperti Inggris, Italia, Jerman dan Belanda. Sepeda Onthel (Roadster bicycle) disebut juga Sepeda kebo, Sepeda onta atau pit pancal adalah sebuah jenis Sepeda standar yang memiliki kharakter unik seperti ukuran ban 28”(inch), dibuat dari material besi yang kokoh, memiliki lampu penerangan dengan sumber energinya dari dynamo, memiliki bel atau klakson (disebut juga “bel kodok”), memiliki rem Torpedo, drum atau rem tangan/capit, memiliki rumah rantai yang tertutup, kunci pengaman yang unik, serta ciri khas lainnya yang ada pada jenis Sepeda ini. Pada masa awalnya, Sepeda ini biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan sampai akhir tahun 1970-an. Namun seiring naiknya kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi, Sepeda ini juga akhirnya merambah hingga pedesaan.

Khusus di Indonesia, keberadaan Sepeda Onthel ini memberikan manfaat yang tinggi dalam kehidupan sosial di masyarakat, bahkan pada era perjuangan maupun kemerdekaan. Pada masa kejayaannya, alat transportasi ini bahkan menjadi style bagi strata sosial dimasa itu. Beberapa merk yang bermunculan antara lain Fongers, BSA, Hercules, Gazelle, Magnet, Humber, Phillips, Raleigh, Simplex, Burgers, Herens, Hartog, Batavus, The Mister, Camel dan merk lainnya.

Hingga periode tahun 1970an, dominasi Sepeda Onthel ini mulai digeser dengan hadirnya Sepeda Jengki. Produk-produk Asia mulai berdatangan, seperti China dan Jepang. Keberadaan Onthel masih eksis, namun kalangan muda di era tahun 80 an memiliki pilihan lain, seperti Sepeda Jengki/Mini/Kumbang dengan penampilan baru. Sepeda ini cukup menarik minat masyarakat Indonesia, maka trend Jengki/Mini/Kumbang mampu menggeser dominasi Onthel.

Singkat kata, hukum alam kembali terjadi, setelah era 80 dan 90 an hadirlah pendatang baru yang mendominasi penggunanya. Sepeda balap, Sepeda Gunung (Mountain Bike), Sepeda Fixie, Sepeda Lipat (Seli) dan Sepeda BMX (Bicycle Moto-Cross) dengan citarasa Motocross. Konon, BMX itu ada dua kategori, pertama BMX Supercross dan kedua BMX Free Ride. Lalu huruf “X” nya dimana ya ?. Mungkin “X”nya itu identik dengan free style dalam jenis sepeda racing ini. Hehehe…entahlah.

Kembali lagi ke Sepeda Onthel, saat ini para penggunanya tergabung dalam sebuah komunitas atau paguyuban. Biasanya, komunitas ini terbentuk karena kesamaan hobi terhadap barang antik, kesamaan jenis Sepeda yang dimiliki (selera), kesamaan wilayah atau kesamaan lainnya yang mengikat secara formal maupun informal. Dari komunitas tersebut biasanya terbentuk susunan pengurus pula, tujuannya agar kekompakan anggota dapat terpelihara. Berbagai atribut atau “properti” komunitas kerap menghiasi Sepeda dan anggotanya itu sendiri, seperti baju ciri khas jaman perjuangan hingga orde lama, topi meneer ala kompeni, baju khas Jawa, tas kulit dan perangkat lainnya yang bernuansa klasik.

Walhasil, dari komunitas yang bergaya klasik dan nyentrik tersebut selalu menarik perhatian masyarakat. Keunikan inilah yang senantiasa hadir setiap hari libur diberbagai jalan di pusat-pusat kota manakala hari libur tiba. Selain itu, kebijakan pemerintah setempat atas pemberlakuan Car Free Day (CFD) sangat memberikan ruang yang menyenangkan bagi komunitas untuk tampil dan bergaya. Masyarakat yang melihatpun senang, karena bisa menyaksikan berbagai keunikan alat transportasi jaman dulu yang masih bertahan hingga kini. Terlebih lagi bagi generasi muda saat ini, suguhan ini menjadi daya tarik untuk dinikmati bahkan tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti trend bergaya klasik ria. Menarik sekali bukan ?. Lalu bagaimana syaratnya agar bisa bergabung dengan komunitas tersebut ? Gampang. Syarat pertama adalah, Anda harus memiliki Sepeda Onthel nya, hehehe. Yuk kita cari Sepeda Onthel nya. ☺ ***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelangi Destina (part 1)

Pelangi Destina (part 5)

Pelangi Destina (part 3)