Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Warna-warni Canvas

Senja hari itu terasa dingin. Hujan yang mengguyur kotaku sejak sore tadi itu lumayan lebat, walhasil setiap jejak-jejak guyuran hujan masih nampak disetiap kelokan jalan. Namun hal itu tidak membuatku surut. Aku harus segera pergi. Kupaksakan tungganganku meraung-raung dipojokan rumah, demi memanjakan hasratku untuk tahu lebih jauh tentang seni lukis. Rasa penasaranku telah membuncah tak terbendung. Jarum speedometer pada Rancy panel Kawasaki Ninja 250 cylinder itu turun naik dengan lincahnya bak pedang samurai siap bertarung. Kuraih helmet dan jaket kulit cokelat itu. Kupacu sepeda motorku dan berlalu dari komplek.  Sabtu ini adalah hari terakhir pekan Seni Lukis yang digelar di Soerabaya Art & Painting Center. Kesempatan dihari libur ini kugunakan untuk hunting inspirasi usai rutinitas . Hampir setengah jam perjalanan sudah kulalui, meski harus melewati beberapa titik macet kota Surabaya.  Tiba dilokasi, aku langsung bergegas menuju ruang utama. Ramai dan meri...

Pelangi Destina (part 5)

Gambar
“Dulu sewaktu kamu masih kecil, paman sering membawamu kesini ?” “Oh ya ?”, tanya Tania sambil mengingat. “Sudah lupa ?” “Sedikit yang bisa Tania ingat paman”, jawabnya. Sang pamanpun tersenyum. “Paman suka sekali kesini karena tempat ini terasa lebih sejuk dan nyaman”, ujar pamannya bercerita. Tatapannya menerawang ke halaman parkir dibawah rindangnya pohon mahoni. “Tania…” “Ya paman ?”, jawab Tania. “Alhamdulillah, akhirnya paman masih diberikan kesempatan mengunjungi tempat ini” “Ya paman.” ,timpalnya sambil tersenyum. “Iya ….hehehe. Paman juga teringat dua orang sahabat ketika kami ngobrol diberanda mesjid ini” “Siapa mereka paman ?” “Wagimin sang marbot masjid ini dan Arman seorang wartawan harian ibu kota”, kenangnya. “Oh ya ?” “Wagimin orangnya sangat lucu tapi kejujurannya sangat luar biasa. Cara berpikirnya yang sederhana kadang membuat kami tertawa. Sedangkan Arman seorang yang dermawan dan mudah bergaul dengan siapapun” “Oh ya. mereka sekarang tinggal d...

Pelangi Destina (part 4)

Gambar
Enam bulan berlalu. Sore satu Muharram 1430 ditahun Hijriah, lelaki perantauan bertubuh tegap itu menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Suara mesin jet pesawat masih mengiang ditelinganya, menderu seiring gemuruh di dadanya. Ia sangat merindukan tanah kelahirannya di kota Cirebon itu. Sebuah kota yang berada diujung Jawa Barat dan perbatasan Jawa Tengah. Sembilan belas tahun sudah ia meninggalkan kenangan yang dialaminya, pahit dan getir pernah ia rasakan di tanah wali itu. Bencana itu telah menikam kebahagiaannya karena telah merenggut orang-orang yang dicintainya. “Taksi pak…,mau pulang kemana ? Biar Saya yang antar”, tanya seorang sopir taksi yang menawarkan tumpangannya. “Tidak mas, terimakasih” , jawab Sudarto secara sambil menenteng tas besar berikut dua kardus bawaan yang ia titipkan di bagasi pesawat sejak berangkat tadi. Bunyi roda-roda dari travel bag seakan mengisyaratkan bahwa hidup itu terus berputar dan tak pernah berhent...

Pelangi Destina (part 3)

Gambar
Lanjutan Bagian Ketiga ”Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Dia tak pantas buatku, dan Aku tak mencintainya”, seru Destina. ”Tidak bisa!. Papa tidak memberi kamu pilihan. Kamu harus menuruti perintah Papa”, hardik Papanya. ”Aku tidak mau pah!, Aku sudah punya pilihan sendiri” ”Harus!” ”Kenapa aku yang harus menuruti Papa?” ”Aku sudah membesarkanmu dengan kecukupan. Semua keinginanmu, Papa penuhi. Sekarang giliranmu untuk menuruti perintah Papa”. ”Tapi untuk permintaan ini aku tidak bisa pah!” ”Papa tidak memberikan kamu pilihan. Buat apa kamu pacaran sama Adrian, yang masa depannyapun belum jelas!” ”Mamaaaa…..Aku tidak mau maaaah!”, Destina menubruk mamahnya dan memeluk erat diiringi tangisannya yang pecah hingga kesudut-sudut ruangan. ”Sabar sayang. Mama akan bilang sama Papamu. Mama juga tak setuju..tapi sabar ya sayang, Papamu sangat keras”. ”Tapi aku mau menikahnya sama Adrian. Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Tolong maaah”, Destina semakin erat memeluk...